
-----------------------------------
Guest
Thu Sep 06, 2007 2:05 am

Shopping centre, gudang ilmu kelas dunia
-----------------------------------
Ketika berkunjung ke Kolkata (ya, ini nama dan bunyi yang 'benar' menurut orang India, dan bukan 'Kalkuta' seperti yang kita pelajari di sekolah dulu) beberapa tahun lalu; saya terkesan dengan murahnya buku-buku bacaan sastra kelas dunia yang dijual di sana. Pembeli tak hanya 'kelompok akademika', namun juga orang-orang biasa spt penjual kaki lima, nampak sibuk memilih buku bacaan di salah satu jalan yang mirip seperti kawasan "Shopping Centre" di Yogya dulu. 
Dan saat terlibat pembicaraan dengan penjual teh pinggir jalan, saya cukup kaget karena begitu saya bilang saya tingga di Inggris (saat itu), dia langsung bicara ttg novel sastra terbaru yang mendapat penghargaan tahun itu di Inggris; padahal 'penampilannya' ya seperti umumnya pedagang kaki lima. Ini bukan kebetulan, karena pengalaman serupa terulang saat saya mengunjungi anggota serikat pedagang kaki lima Kolkata, kebanyakan sadar politik, fasih bicara, menunjukkan bahwa mereka cukup 'terdidik'. 

Yang terjadi adalah, buku-buku terbitan baru 'kelas dunia' tsb diterbitkan dalam bahasa Bangla dan bahasa Inggris dengan cara mencetaknya kembali di Kolkata. Memang kualitas cetakannya rendah, dengan kertas kusam seperti buku-buku kita yang keluar jaman sebelum tahun 80-an. Saya tak sempat mencari tahu bagaimana 'perundingan' hak cipta dan hak terbit dengan pihak-pihak penulis atau penerbit internasional tsb (kebanyakan penerbit terkenal spt Penguin Books, Yalebook, dsb) namun yang jelas, harga buku menjadi mudah terjangkau oleh masyarakat paling bawah sekalipun.  Harga buku-buku wajib untuk anak-anak sekolah hampir setara dengan harga beli makan siang di 'Warteg'nya Kolkata, jadi betul-betul terjangkau oleh semua. Sebagai pembanding di negeri kita, tempohari saya beli buku latihan baca tulis TK untuk anak 'staff rumah tangga' di rumah saya, harganya masing-masing Rp 8.500 - padahal ini adalah buku latihan , yang nantinya dicoret-coret (latihan tulis); bukan buku 'bacaan' yang bisa disimpan lagi. 

Kolkata jauh lebih miskin dari Indonesia, juga tak punya banyak sumber daya alam diperut buminya. (silakan lihat foto-fotonya di www.chocolatelife.multiply.com, klik di 'Kolkata Photos') Negara bagian India yang berhaluan Sosialis-Komunis ini juga sangat keukeuh menolak bantuan IMF atau Bank Dunia untuk dana bantuan negara, sehingga di sana-sini jalan (kota) masih berlubang, gedung di kota nampak seperti habis perang. Bisa dimengerti, pinjam dana pembangunan dari dua organisasi itu memang seperti 'trading with the devil' , kelihatan makmur seperti Indonesie, namun beban hutang menyebabkan pemerintahnya harus memotong subsidi publik dan terus menerus menaikkan harga dan pajak. 

Namun begitu saya cukup terkesan dengan tingginya kemampuan baca dan pendidikan -singkatnya, mereka miskin namun terdidik.

-----------------------------------
Guest
Tue Sep 11, 2007 2:26 am

Budaya membaca
-----------------------------------
Kagum juga ya, masyarakat yang terkenal dengan kemiskinannya tapi sebetulnya "kaya" pengetahuan lewat membaca. Baca cerita Bu Rina, aku jadi ingat Pak Ranjan, dulu dari VSO yang bekerja di NTT (?)...
Mungkin Bu Rina tahu, bagaimana masyarakat bisa punya kegemaran  membaca yang begitu besar. Mungkin harga bacaan yang murah menjadi satu penunjang juga. Tapi pasti ada pembiasaan baca karya - karya sastra yang sudah sejak tempoe doeloe. Apakah pengaruh kolonialisme Inggris? Biasanya negara jajahan Inggris maju di bidang pendidikannya ( betul, nggak?). Aku bayangkan kalau membaca karya sastra begitu "merakyat" seperti itu, pasti ada nilai khusus dari masyarakat Kalkuta tentang "karya sastra". Aku sendiri tidak banyak membaca karya sastra yang ada di Indonesia ( pilih - pilih penulis, topik, dan nilai yang terkandung ).  Karya sastra yang berbau India pun hanya kutonton lewat  Film Ramayana  dan Mahabarata. Apakah karya sastra yang "merakyat" di Kalkuta juga tentang dewa-dewi seperti itu? 
Biar pembicaraan tentang Kalkuta komplit, mari yang mau gabung tentang topik ini, silakan njawab.


makasih

-----------------------------------
Guest
Tue Sep 11, 2007 2:46 am


-----------------------------------
Sebuah paparan yang menarik sekali tentang Kalkuta, eh salah.., Kolkata. Ya, memang dari jaman SMP, yang kita ucapkan ya Kalkuta karena kalau nggak salah nama bahasa Inggrisnya (waktu itu) Calcutta. Lidah Indonesia (yang nota bene dimiliki olah guru-guru sejarah kita waktu itu, dan mungkin sekarang) akan membunyikannya sebagai /kalkuta/.

Kembali lagi ke bahasan, saya sangat terkesan tentang apa yang dipaparkan oleh Bu Rina tentang Kolkata. Jadi, kalau kita anggap kita masih di belakang Kolkata dalam hal kesadaran membaca (aku juga nggak kunjung sadar, nih!), ya ayo, jangan mau kalah. Sedikit berbagi, lebih dari baca membaca, human resources keluaran India memang lebih bisa berkompetisi di dunia internasional (secara umum) daripada Indonesia. Itu yang saya lihat, mudah-mudahan nggak bener -hanya kasus-kasus yang kebetulan saya lihat dari pengalaman saya. Tapi, kalau benar, kenapa, ya? Apakah karena India adalah bagian dari persemakmuran Inggris? Hahaha..

O ya, saya mau berbagi referensi juga, kalau ada yang mau tahu lebih banyak tentang Kolkata, termasuk bahwa kota ini pernah berganti nama juga. Silakan klik : kangguru 
:evil:

-----------------------------------
Guest
Tue Sep 11, 2007 8:36 am


-----------------------------------
1. "Enak dijajah Inggris"
Kalimat tsb kerap saya dengar di sini/Indo, entah waktu ngobrol dengan sopir taksi atau dg orang-orang lain. Perlu diingat bahwa penjajahan dalam bentuk apa pun merupakan pengalaman tidak menyenangkan, coba saja kalau kita sebutkan hal ini pada orang India, pasti mereka akan membantah panjang lebar bahwa dibawah jajahan Inggris, berbagai sendi dasar kepemimpinan dan kepemerintahan negeri itu hancur lebur. Barangkali sisi yang kita lihat adalah, pada kenyataannya kini negeri-negeri bekas jajahan Inggris kebanyakan masyarakatnya bisa berbahasa Inggris. Itu betul namun saya kira tentu juga karena dukungan bahwa bahasa Internasional adalah bahasa Inggris. 
2. Budaya Baca
India sendiri memiliki sejarah kesastraan yang sangat dalam sebelum Inggris meng-kolonisasi kawasan itu, jadi minat ingin tahu terhadap karya sastra saya kira telah ada di sana. Saya kurang tahu banyak ttg masa penjajahan Inggris di India, namun sepertinya pendidikan tetap berlangsung bagi orang India masa itu, sehingga 'kebudayaan membaca' tetap terpupuk. 

Di Inggris, waktu kita membawa anak ke klinik (macam Puskesmas) pada umur 6 bln untuk mendapatka vaksin, pulangnya diberi sebuah paket berupa tas kain, isinya mangkuk plastik, celemek makan, dan 3 buku ceriata bergambar. Buku-buku tsb terbuat dari bahan kertas sangat tebal sehingga kalau digigit2 bayi tidak akan cepat rusak, dan 'ceritanya' hanya satu baris di setiap halaman, bahkan hanya satu kata (contoh: gambar pisang dengan warna mencolok, lalu ada tulisannya 'banana'). Pada umur ini orangtua didorong untuk mulai memberi makanan pada bayinya, juga mulai dibiasakan 'membaca'. Waktu bayi umur 8 bulan juga mendapat vaksin yang lain, juga menerima paket lagi, kali ini berupa kaos bayi, dan 3-buku yang 'ceritanya' sedikit lebih panjang. 

Ini tentu saja usaha pemerintah agar orang tua memulai membiasakan anak kenal dengan buku sejak usia dini. Barangkali karena kaitan penduduk terdidik >>produktif >> mengurangi beban ekonomi negara disadari sebagai saling kait yang memberi keuntungan bagi negara -- dan bukannya sebuah keterkaitan yang kira-kira mengandung makna begini: penduduk terdidik >> berkurangnya 'ketenangan negara' karena penduduknya sadar hak lalu banyak protes/demo di mana-mana; dan penduduk kurang terdidik >> lebih mudah dikontrol. Contohnya negara mana ya..he..he...?

3. Jenis bacaan di Kolkata
menjawab pertanyaan Bu Rini, tak hanya cerita ttg dewa-dewi/Mahabarata & Ramayana  yang masih beredar, namun jenis buku yang beredar merentang dari jenis Sosialis, Marxis, novel-novel 'modern' internasional (versi murahnya tentu, bahkan ada beberapa yang ditulis dg bahasa Bangla). 

4. Tambahan ttg Kolkata
Dari negara bagian India yang miskin dan secara fisik tampak terbelakang ini, muncul nama-nama besar penerima hadiah nobel: Rabindranath Tagore- sastrawan, Mother Teresa, Amartya Sen -ahli ekonomi. Dan kalau pernah dengar sutradara Satyajit Ray, film-filmnya dikenal sebagai karya adiluhung kelas dunia yang berhasil memperkenalkan film India berkelas (non-Bollywood) setara Akira Kurosawa dari Jepang. Nah, pertanyaannya adalah, bagaimana sebuah tempat miskin kok bisa menghasil orang-orang dengan 'otak besar' macam ini? Kebudayaan membaca pasti punya peran di sini. 

Terima kasih pak Kangguru yang menyediakan link ke Wikipedia ttg Kolkata, melengkapi 'pemahan' ttg Kolkata. 

Rina

-----------------------------------
Guest
Mon Sep 17, 2007 2:16 am

Bung Hatta dan Minat Baca
-----------------------------------
Artikel di Kompas hari ini (Senin 17 sept) memaparkan tentang koleksi buku milik Bung Hatta yang jumlahnya hampir 10 ribuan - dan putrinya menyatakan bahwa semua buku tersebut memang pernah dibaca oleh pemiliknya ; nggak cuma sekedar beli untuk koleksi. 

Memang kaitan 'punya uang' dan 'senang membaca' selalu ada, tapi ada banyak cara lain juga upaya menumbuhkan minat baca , salah satunya lewat perpustakaan. Pada anak, saya kira tak cukup hanya membelikan buku-buku bacaan kalau ortunya atau orang-rang di sekitarnya tak kerap kelihatan membaca buku. Maka, mari kita mulai yuuk, agar generasi berikut lebih luas wawasannya....
Yuuuuk!
