Rinirio wrote:
Bahasa Indonesia sangat kaya dengan kata. Untuk mengungkapkan satu arti kadang - kadang menggunakan banyak kata. Kalau kita mencermati pemakaian awalan pe(N)- dan akhiran - an, ada salah satu arti dari penggunakan imbuhan tersebut yaitu alat untuk me(N)-. Misalnya dari kata [i]menjepit menjadi penjepit, dengan akhiran -an ada jepitan. Kata meraut menjadi peraut, dengan akhiran -an menjadi rautan.
Nah, pertanyaan saya apakah penjepit artinya sama persis dengan jepitan? Peraut artinya sama persis dengan rautan? Kenapa muncul bentukan - bentukan baru kalau artinya sama? [/i]
O, iya ya… Manarik sekali. Dan kupikir, fenomena-fenomane inilah yang membuat Bahasa kita ini menjadi penuh warna, kaya. Dari segi ini, fenomena ini merupakan sesuatu yang membanggakan. Dari sisi pembelajaran, bisa jadi hal-hal yang seperti ini menjadi bahan yang sulit untuk dipelajari.
Anyway, mari kita diskusikan pertanyaan Bu Rini tadi. Pendapat saya menanggapi pertanyaan Bu Rini adalah:
Salah satu arti dari awalan pe- sebagai alat sudah jelas. Contohnya, ya, kata
penjepit yang sudah dicontohkan oleh Mbak Rini. Contoh lainnya adalah
peraut, yang juga dijadikan contoh oleh Bu Rini. (Wah, nggak kreatif banget, contohnya hanya meng-copy.) Lalu akhiran –an yang juga berarti alat apakah benar-benar sama dengan pe-? Kalau menurutku, ketika pemakaiannya untuk mengacu pada alat ko benar-benar sama. Contohnya, ‘Penjepit rambutku hilang’ dan ‘Jepitan rambutku hilang’. Kita bisa memakai kedua kata itu untuk mengacu pada satu benda yang sama, kan? Dan artinya juga memang benar-benar sama, kan?
Letak dari perbedaannya bukan di situ. Perbedaannya adalah bahwa akhiran –an JUGA berarti hasil dari aktivitas verba, atau cara (
manner) dari satu aktivitas verba. Apakah saya betul? Di sinilah perbedaannya. Perhatikan contoh kalimat berikut ini:
“Jepitannya sungguh-sungguh luar biasa, (
eiiit, tunggu dulu, kalimat ini belum selesai..) sampai-sampai pegulat Rusia itu tidak bisa berkutik.” Apakah bisa kita mengganti kata
jepitan (yang artinya cara atau hasil) itu dengan
penjepit?
“Penjepitnya sungguh-sungguh luar biasa sampai-sampai pegulat Rusia itu tidak bisa berkutik.” Nggak bisa, kan? Atau kalau kedua kata itu bisa mengacu pada kata benda, benda yang diacu beda, kan? Ya di situ itu letak perbedaannya.
Sebenarnya saya justru berpikir, apakah arti akhiran –an sebagai ‘alat’ itu bukan pengaruh Bahasa lain, misalnya Bahasa Jawa? Mbak Rini bisa menjawab pertanyaan tulus dari saya ini? Bung Thomas, mungkin? Pak Yon, barangkali? Saya berpikir, jangan-jangan arti –an yang ini hanyalah pengaruh dari Bahasa lain, bukan asli Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu).
Salam,
kangguru
NB: Kata
peraut mengingatkanku pada JICA. "Nenek moyanku oram
peraut....
