AlamBahasa - Bahasa & Budaya Indonesia Situs Tondowongso Penemuan Terbesar |
| Author: | Anonymous [ Tue Mar 06, 2007 12:19 am ] |
| Post subject: | Situs Tondowongso Penemuan Terbesar |
Suntingan dari: http://www.portalbanyumas.com/portal/modules.php?name=News&file=article&sid=251 Situs Tondowongso Penemuan Terbesar sumber: www.seputar-indonesia.com PENEMUAN 14 benda purbakala di lahan tanah untuk penimbunan di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kec Gurah, Kab Kediri, Jawa Timur, dinyatakan sebagai penemuan terbesar sejak pemugaran Candi Penataran 30 tahun silam. Ini diketahui setelah 14 arkeolog anggota tim Unit Pelaksana Teknis BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Jawa Timur di Trowulan, Mojokerto, melakukan penggalian, pemetaan, dan rekonstruksi di lahan seluas 0,5 ha itu. ”Dari pengamatan kami, ini merupakan penemuan terbesar dalam beberapa tahun terakhir setelah Candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Blitar. Kami perkirakan, kawasan ini merupakan bekas kompleks candi yang luas dan besar,” ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis BP3 Trowulan I Made Kusumajaya, kemarin. Made menjelaskan, dasar situs Tondowongso sebagai penemuan terbesar adalah banyaknya benda purbakala yang ditemukan di lokasi penggalian. Kemudian, luas lokasi penemuan yang bisa mencapai 1 ha. Apalagi, di lokasi tersebut ditemukan tembok batu bata merah berukuran besar.”Kami membutuhkan waktu dua bulan untuk merekonstruksi semuanya,” tandasnya. Seperti diberitakan, penemuan demi penemuan terus terjadi di Dusun Tondowongso. Diawali dari penemuan enam arca,yaitu Mahakala, Durga, Lembu Andini,Yoni, Syiwa Catur Muka,dan Nandiswara.Selanjutnya, penemuan bangunan yang diperkirakan sebagai ”patirtan”(kolam pemandian kuno),disusul tujuh arca. Ketujuh arca yang ditemukan Sabtu (3/3), teridentifikasi Agastya, Lingga, Lembu Andini, Lingga, Duduk, Syiwa Mahaguru, dan satu arca belum bisa dikenali. Dalam runutan penemuan benda purbakala, situs Tondowongso pernah diteliti arkeolog senior Indonesia. Pada 1957, Profesor Sukmono– seorang arkeolog asal Yogyakarta– pernah meneliti kawasan tersebut. ”Saat itu, senior kami itu menemukan sejumlah arca dan dibawa ke Prambanan.Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, sehingga perkiraan kami juga didasarkan pada penelitian sebelumnya,” lanjut Made. Made mengaku kecewa dengan penanganan situs yang dilakukan warga. Pasalnya, dengan penggalian liar, tim arkeolog akan kesulitan merekonstruksi situs Tondowongso. Bisa jadi arca dan benda purbakala lainnya, posisinya akan berubah dari posisi asli arca dan bangunan lain yang ada di kawasan Tondowongso. Arif Sofyani, anggota tim arkeolog, menyatakan proses penggalian akan melalui beberapa tahapan, di antaranya memetakan wilayah yang diperkirakan ada benda purbakala. Setelah itu, akan diketahui blue print benda purbakala melalui review di atas kertas dan pemetaan. Dia memperkirakan, penggalian membutuhkan waktu dua pekan dengan biaya sekitar Rp100 juta. ”Selama proses penggalian, kawasan ini akan kami sterilisasi,” kata Arif Sofyani. Di tempat terpisah, Bupati Kediri Sutrisno berjanji akan membantu tim dari BP3 yang sedang menggali situs Tondowongso. Pihaknya akan membentuk tim dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri untuk memback- up tim dari BP3. (edi purwanto) |
|
| Author: | Anonymous [ Fri Mar 09, 2007 7:54 am ] |
| Post subject: | terbesar : bangunan atau nilai sejarah? |
Menurut sampeyan, terbesar dalam hal apa, Kangguru? terbesar dari nilai sejarahnya karena menghubungkan sejarah peradaban manusia atau terbesar dari luas area situs itu? |
|
| Author: | Anonymous [ Tue Apr 10, 2007 10:19 pm ] |
| Post subject: | |
Pertanyaan Kang Thom lebih kedengaran seperti pertanyaan 'comprehension'. Harus kujawab nggak, nih? OK deh, kujawab saja. Tetapi ya itu, aku menjawab sebuah pertanyaan komprehensi. Menurutku, yang dimaksud terbesar adalah terbesar dalam hal kuantitas, yang bisa dihitung dan diukur dengan sistem metrik, gituloh. Kalau terbesar dalam konteks kualitas (peradaban, kepentingannya bagi penggalian informasi peradaban kuna dll, dst..), bukan aku yang bisa menjawabnya. Mungkin Sigit Prasetyo kae punya kapabilitas untuk ini. Untuk lebih jelasnya, sih, tanya saja sama penulisnya, Bapak Edi Purwanto itu. kangguru |
|